Dibangun dari Bawah, Dulu CEO Starbucks Hampir Saja Meyerah

Labels this post :
Inilah inspirasi bisnis yang layak Anda simak. Khususnya bagi Anda yang memulai bisnis dari sector paling kecil. Sebagaimana kebanyakan perintis usaha kuliner di Indonesia yang memulai usahanya dari bawah, Howard Schultz yang dikenal sebagai CEO Starbukcks juga sempat mengalami rasa frustasi dan hampir saja menyerah. Ia hampir saja menanggalkan impiannya untuk menjadi perusahaan kopi yang sukses!

Miliader yang Merintis Usaha dari Bawah
Howard Schultz adalah CEO jaringan gerai kopi ternama Starbucks. Ia melakukan berbagai uji coba dan “bermain” dengan anek kopinya selama bertahun-tahun. Segala cara ia lakukan untuk memasarkan kopi bubuknya, yang awalnya hanya berkutat pada pemanggangan kopi untuk dijual di sekitar daerah Seattle, Whasington. Hampir saja Howard mengalai kegagalan, bahkan mertuanya sudah menyuruhnya untuk berhenti “bermain-main” dengan kopi karena tidak memberikan hasil yang sepadan.
Dimulai sekitar tahun 1971, Starbucks pada awalnya focus menjual biji kopi berkualitas dan juga melakukan penyeraingan. Nama Strabuck sendiri diambil dari sebuah nama kapal Pequod yang terkenal di kala itu.
Pada awalnya ada tiga sahabat yang memulai usaha bersama merintis Starbuck. Mereka adalah guru bahasa Inggris Jerry Baldwin, guru sejarah Zev Siegl, dan penulis Gordon Bowker. Dari ketiga pendiri pertama ini kemudian Starbuck tidak mengalami perkembangan segnifikan, dan akhirnya dijual kepada Howard Schultz. Sebagai pemilik baru tunggal, Howard Scuhultz berusaha mengembangkan usaha yang memang ia senangi ini untuk melakukan berbagai perubahan dan perluasan pasar.

Mengenal Howard Schultz
Howard Schultz lahir dari keluarga sederhana yang cenderung miskin pada tahun 1953. Bersama orang tuanya, Howard Schultz tinggal di daerah Brooklyn, New York. Ayahnya adalah mantan tentara Angkatan Darat AS dan kemudian menjadi sopir truk, Fred Schultz dan istrinya, Elaine. Howard Schultz dibesarkan bersama sebagai 3 bersaudara, dengan dua adiknya yaitu Ronnie dan Michael.
Lingkungan Howard Schultz tinggal memang kelompok perumahan keluarga-keluarga miskin. Di lingkungan perumahan tersebut juga tidak mempunyai apa-apa, hanya lapangan basket kecil. Tidak memiliki tanah dan perkebunan apapun. Karena itu setelah keluar dari tentara, ayah Howard  mencari nafkah dengan menjadi supir truk.
Hari-hari Howard kecil dihabiskan di lingkungan rumahnya dimana penduduknya secara umum masih bersifat sederhana dan berpenghasilan rendah. Howard kecil sadar bahwa sungguh sulit bagi untuk keluar dari garis kemiskinan yang diderita oleh keluarganya. Namun hasratnya untuk melepaskan diri dari cengkrman kecil lebih menakutkan dan selalu menghantui perjalanan hidupnya. Impiannya sangat kuat, dan dia ingin merubah kehidupan keluarganya agar menjadi lebih baik dari kondisi yang dialaminya pada saat itu.

Membangun Starbuck Menjadi Besar
Howard pada awalnya hanyalah pekerja atau buruh di perusahaan Starbuck yang dikelola oleh tiga sahabat sebagai pendirinya. Pada saat itu Starbuck hanya focus pada pelayanan menjual kopi dengan rasa yang mengagumkam. Pada awalnya, ia mencoba meminum kopi yang dibuat oleh Starbucks. Howard langsung jatuh hati dan terkagum dengan cita rasa kopi yang jauh lebih nikmat dibanding kopi manapun yang pernah ia coba.
Segera Howard mengajukan diri untuk bekerja di Starbucks. Hingga sutau hari Howard jalan-jalan ke Italia. Dia terkagum dengan bisnis kedai kopi di Italia yang tertata bagus dengan suguhan dan suasana yang nyaman untuk bersantai. Howard kemudian mengusulkan kepada owner Starbucks untuk melakukan modifikasi penjualan, yakni dengan membuka bisnis kedai kopi. Namun ide ini ditolak oleh keseluruhan owner Starbuck. Tidak puas, akhirnya Howard keluar dari Starbucks dan membuat bisnis kedai kopi sendiri.

Membangun Bisnis kedai Kopi II Giornale
Howard  berpendapat paa pendiri Starbucks adalah orang-orang dengan pemikiran tidak maju. Para pendiri Starbuck masih berpegang pada prinsip bahwa Starbuck adalah kopi “rumahan”. Gagasannya untuk membuka gerai semakin banyak dengan membuka bisnis kedai kopi dianggap akan merusak citra Starbuck yang sudah ada sebagai kopi rumahan.
Namun para pendiri Starbuck masih berbaik hati dengan Howard. Saat Howard memutuskan untuk membuat bisnis kedai kopi sendiri, mereka ikut serta memberikan pinjaman keuangan untuk memulai usahanya. Sementara sisanya Howard melakukan peminjaman dengan memberikan keyakinan kepada bank bahwa ia dapat melunasinya. Hingga pada April 1986, Howard memulai usaha barunya, yakni bisnis kedai kopi II Giornale.

Membeli Usaha Starbucks
Setahun berlalu, tiba-tiba Howard mendengar Starbuck dengan keseluruhan produk, resep, merk dagang dan keseluruhan unit usaha berikut mesinnya ingin dijual. Mendengar itu segera Howard menemui owner Starbuck.  Namun sayang keuangan Howard tidak mencukupi untuk membeli Starbuck yang mengalami kerepotan management.
Howard kemudian melakukan peminjaman ke bank dengan jaminan usaha kedai kopi II Giornale. Setelah pembelian berhasil, kini Howard menjadi pemilik tunggal kedai kopi Starbucks.
Segera saja, segala idenya yang pernah ditolak kini langsung dimuntahkan. Namun kenyataannya semua tidak selalu berjalan mulus. Howard kemudia membangun Starbucks dengan menyediakan Bar Counter sebagai seorang Barista (Ahli Pembuat Kopi) untuk mmeberikan kesan mewah. Tugasnya adalah menghaluskan biji kopi, meracik dan menyajikan kopi segar. Barista juga harus dapat menghafal nama, kebiasaan dan minat para pelanggan.

Ketika Howard pertama kali berkunjung ke Italia, dia kagum dengan kedai kopi disana khususnya pada teknik penyajian kopi oleh para Barista dimana mereka mampu menuang espresso dengan satu tangan sementara tangan yang lain bekerja mengaduk Cream, dan menemani pelanggan mengobrol diwaktu yang bersamaan.
Setelah melewati masa-masa sulit, Howard semakin bersemangat untuk membuka semakin banyak kedai kopi. Mulai tahun 1992, ia berhasil membuka gerai lebih banyak lagi. Dia memulainya dari New England, sekalgus di Boston dan Chicago dan sampai ke California. Dalam bisnisnya Howard mengadopsi sistem waralaba (franchise).
Howard sadar, dengan semakin banyaknya waralaba Starbcuks, maka ia juga harus semakin hati-hati dengan kuantitas dan kualitas rasa kopinya. Howard memperketat dan membatasi penjualan kopinya sendiri untuk mempermudah melakukan kontroling. Kemewahan kopi Starbuck semakin terasa, lebih-lebih saat diluncurkannya Slogan iklan “Senyum Akan Muncul Saat Menikmati Kopi Yang Penuh Cita Rasa”. Howard meyakinkan bahwa slogan tersebut nyata, tidak berbeda dengan realita yang sebenarnya di dalam Starbucks.
Pada tahun 1992, Howard membawa Starbucks menjadi perusahaan publik. Hingga Juni 1992, ia memasang saham Starbucks di New York Stock Exchange di harga 14 dollar Amerika per lembar, dan harga sahamnya naik menjadi 33 dollar Amerika. Puncaknya, pada atahun 1996 Starbuck memulai debutnya memperlebar sayap perusahaan sebagai perusahaan internasional. Starbucks membuka cabang pertamanya di Jepang, kemudian berlanjut di Singapura, Korea, Taiwan, Inggris, Belanda, Swedia, dan Israel.

Kini, popularutas bisnis kedai Starbucks telah mendunia. Usaha Howard tidak semata menginspirasi para pelanggannya tapi juga kompetitor lainnya. Di saat itu hingga kini, sudah banyak competitor bermunculan dalam bentuk resto coffe dengan harga yang lebih murah dan kualitas rasa yang sama-sama mewah. Kini semua kembali kepada Anda.

Share it :

About Me : Teguh Firmansyah

Only Blogger Rumahan Yang Sedang Meniti Jalan Kesuksesan.

Related Posts

HIMBAUAN BERKOMENTAR
1. Harap Tidak Komen Dengan Menggunakan Link Aktif
2. Komentar Bukan Spam
3. Isi Komen Tidak Bersifat SARA
4. Komentar Harus Relevan