Cara Menyusun Bab II Skripsi Yang Baik Dan Benar

Labels this post :
Kali ini saya akan melanjutkan tulisan mengenai tata cara penulisan skripsi/karya ilmiah. Setelah sebelumnya saya menulis untuk Bab I sekarang kita masuk pada Bab II. Pada penyusunan Bab II ini ada beberapa point penting yang harus kita ketahui bersama, yaitu diantaranya pada bab II memuat mengenai Penyusunan Kerangka Teoritis dan Penyusunan Kerangka Berfikir. Kedua point ini di dalamnya juga memiliki point penting yang harus di perhatikan baik-baik, tentunya semua akan di bahas di sini. Langsung saja kita masuk kedalam pembahasan bagaimana menyusun bab II pada skripsi yang baik dan benar.


1. Penyusunan Kerangka Teoritis
Hal Penting Dari Kerangka Teoritis
Membangun kerangka teoritis dan merumuskan hipotesis menjadi keharusan dalam penelitian kuantitatif. Kerangka teoritis merupakan penjelasan atas gejala atau masalah yang menjadi pusat perhatian peneliti, hal ini bisa di lihat dari judul penelitian. Kerangka teoritis di ambil dari litelatur. Dibangun melalui survey dan telaah literature dan merupakan “Logical Construct” atau Theory ad-hoc yang di gunakan untuk menjelaskan masalah atau “Menjawab” pertanyaan penelitian. Lalu dari kerangka teori tersebut, peneliti menderivasi dugaan atau jawaban sementara (Hipotesis) tentang suatu masalah atau hubungan antara satu atau lebih gejala yang dipermasalahkan dalam perumusan masalah.

Secara garis besar pada penyusunan Bab II memiliki alur : Dari kerangka Teorià kerangka berpikirà dugaan(kesimpulan)àHipotesis.

Cara Menyusun Bab II Skripsi Yang Baik Dan Benar
Cara Menyusun Bab II Skripsi Yang Baik Dan Benar

Kerangka Teoritis Mencakup:
Deskripsi Teoritis dan Pembahasan penelitian terdahulu yang relevan, bisa di ambil dari pakar, ilmuan, atau skripsi penelitian lain, dan tidak boleh di tambah atau di kurangi. Kerangka Berpikir mencakup asumsi sampai dengan rumusan hipotesis.

Perbadaan Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual
- Kerangka Teoritis
Disusun berdasarkan teori. Dan teori disusun melalui telaah pustaka atau survey pustaka.
- Kerangka Konseptual
Disusun berdasarkan pemikiran logis dan pengalaman praktis.

Catatan: Dalam kenyataannya kerangka konseptual juga membutuhkan / di dasarkan atas survey literature yang berhubungan dengan penjelasan variable dan hubungan antar variable yang di pelajari.

Persamaan Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual
Baik kerangka teori maupun kerangka konseptual menjelaskan variable dan saling berhubungan antara variable-variable yang di anggap secara integral menyatakan dinamika dari situasi-situasi yang di selidiki.

Model Prosedur Penulisan Kerangka Teoritik (Creswell)
- Lihat pustaka berdasarkan disiplin ilmu untuk mencari teori.
-Lihat juga studi-studi atau penelitian-penelitian terdahulu yang membahas topic tersebut atau topic yang berhubungan erat.
- Ajukan pertanyaan pelangi: Mengapa variable independen mempengaruhi variable dependen?
- Tuliskan bagian teori.

Contoh:
            Teori yang saya gunakan adalah……(sebutkan nama teori). Teori ini di kembangkan oleh….(sebut asal atau sumber teori) Dan digunakan untuk meneliti atau mempelajari….(sebutkan topic di mana kita menemukan teori yang digunakan). Teori ini mengidikasikan bahwa…(bahas proposisi-proposisi atau dalil-dalil dan hipotesis-hipotesis dalam teori tersebut). Seperti digunakan dalam penelitian saya, teori ini tetap bahwa saya berharap variable independen saya….(kemukakan nama variable independen) mempengaruhi atau menjelaskan variable dependen (kemukakan nama variable dependen) sebab…(berikan satu pemikiran atau alas an berdasarkan pada logika teori).

2. Penyusunan Kerangka Berpikir
Hal penting dari kerangka berpikir
Penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan peneliti.
- Disusun berdasarkan kajian teori/tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan.
- Kerangka berpikir merupakan argumentasi peneliti dalam merumuskan hipotesis.
Untuk merumuskan argumentasi kerangka berpikir menggunakan logika deduktif dengan memakai pengetahuan ilmiah sebagai premis dasarnya.
Contoh Logika Deduktif
1.      Makin tinggi prestise yang dimiliki seseorang dalam kelompok, lebih memungkinkan dia memiliki pengetahuan tentang aktivitas dari kelompok.
2.      Makn banyak pengetahuan yang di miliki seseorang tentang aktivitas kelompok, lebih memungkinkan dia dipercaya untuk mewakili kelompok melakukan negosiasi dengan kelompok lain.
Deduksi
Makin tinggi prestise yang dimiliki seseorang dalam kelompok lebih memungkinkan dia dipercaya untuk mewakili kelompok melakukan negosiasi dengan kelompok lain.

Catatan:
-          Kerangka Berpikir adalah buatan peneliti sendiri.
-          Argumentasi itu harus analitis, sistematis, dan menggunakan teori yang relevan.
-          Dalam memilih teori atau pendekatan yang digunakan untuk mendukung kerangka berpikir diperlukan adanya Asumsi, postulat, atau prinsip secara tersurat.
-          Penyusunan kerangka berpikir yang dapat dipertanggung jawabkanàkesimpulan
-          Kesimpulan inilah yang menjadi hipotesis.
Dalam penyusunan kerangka berpikir boleh saja dijadikan satu dengan kerangka teoritis, hal ini bukan saja untuk menghindari pengulangan yang tidak perlu melainkan sekaligus mejuruskan pemaparan landasan teori kea rah kerangka berpikir yang argumentative.

Contoh Rumusan Kesimpulan:
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, dapat di tarik kesimpulan bahwa jika teknologi touchscreen di terapkan sebagai media pembelajaran di lembaga pendidikan usia dini ABC Bandung, maka prestasi belajar siswa akan meningkat, dengan kata lain terdapat hubungan yang positif antara penerapan teknologi touchscreen sebagai media pembelajaran dengan peningkatan prestasi belajar siswa di lembaga PAUD bandung.

3. Perumusan Hipotesis
Pengertian Hipotesis
Berasal dari kata  Hypo= dibawah thesa= kebenaran. Artinya suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian. Sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Atau pernyataan sementara terhadap rumusan penelitian yang dikemukakan.

Manfaat Hipotesis
-          Untuk memfokuskan masalah
-          Mengidentifikasi data-data yang relevan untuk di kumpulkan.
-          Menunjukkan bentuk disain penelitian, termasuk teknik analisa data yang akan di gunakan
-      Menjelaskan gejala social. 
-          Mendapatkan kerangka penyimpulan.
-          Merangsang penelitian lebih lanjut.
Jenis-Jenis Hipotesis
-          Hipotesis Kerja ( Hipotesis Alternatif)
-          Hipotesis Nol (Null Hipotesis)

Hipotesis Kerja (H1)
Hipotesis kerja/Hipotesis Alternatif yaitu hipotesis untuk menyatakan adanya hubungan antara variable X dan Y, atau adanya perbedaan antara kedua kelompok.

Bentuk Rumusan Hipotesis Kerja
1.      Jika…..Maka….. Contoh: Jika orang banyak makan, maka berat badannya akan naik.
2.      Ada Hubungan antara………dengan………….
3.      Ada perbedaan…..antara…….dan………
4.      Jika……..maka akan………….
5.      Jika……..diterapkan, maka akan……..

Hipotesis Nol
Sering juga disebut hipotesis statistis, karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistis.
Hipotesis Nol menyatakan tidak adanya hubungan, tidak adanya perbedaan antara dua variable atau tidak adanya pengaruh variable X terhadap variable Y.

Bentuk Rumusan Hipotesis Nol
-          Jika…..maka….tidak akan…..
-          Tidak ada hubungan antara…..dengan…….
-          Tidak ada perbedaan…antara….dengan……..
-          Tidak ada pengaruh…..terhadap……

Demikianlah tulisan mengenai Cara Menyusun Bab II Skripsi Yang Baik dan Benar,  semoga bermanfaat. Silahkan di share serta komen dan jangan lupa untuk terus mendukung web ini dengan cara like fanspage dan follow blog Mas Teguh.Terimakasih


Share it :

About Me : Teguh Firmansyah

Only Blogger Rumahan Yang Sedang Meniti Jalan Kesuksesan.

Related Posts

HIMBAUAN BERKOMENTAR
1. Harap Tidak Komen Dengan Menggunakan Link Aktif
2. Komentar Bukan Spam
3. Isi Komen Tidak Bersifat SARA
4. Komentar Harus Relevan